Tag Archives: puisi indah

PUISI 11 Maret 2016 dari pak guru

Standard

Datang sudah hari ini,

Jum’at, sebelas maret dua ribu enam belas

Hari dimana dulu aku dilahirkan

Hari dimana orang tertawa sekaligus haru

Menjelang perkenalanku dengan dunia ini

 

Hari ini, di depan Ka’bah, aku bersimpuh di altar Ilahi yang suci

mengenang kembali

Kerikil-kerikil tajam yang memperkaya arti hidupku

Manisnya madu cerita hidupku yang membuat senyumku mengembang…

Tapi apa yang telah aku berikan

Untuk orang-orang yang tertawa sekaligus haru

Menjelang kelahiran…

 

Hari ini aku terpana di panggung kesadaran

Apa yang telah kuberikan untuk

Agamaku untuk Tuhanku untuk kedua orang tuaku

untuk sahabatku yang banyak menebar kebaikan untukku

 

Hari hari berlalu, perlahan tapi pasti

 

Hari ini aku menuju satu puncak tangga yang baru

Karena lembaran baru telah terbuka di hadapanku

Untuk sisa jatah umurku…

 

Apa yang telah kupersiapkan untuk

masa depanku, untuk akhirat ku, untuk

orang-orang yang mencintaiku dan untuk Tuhanku

Ketika kucoba tengok kebelakang

Ternyata aku masih banyak berhutang

Ya, berhutang pada diriku…

Karena amalku masih membuatku malu…

Betapa ringan dan sedikitnya…

 

Duh Gusti…ampuni aku…

 

*****

Untuk sahabat dan saudara-riku tercinta….

 

Terima kasih atas doa tulus dan indah yang kau lantunkan untukku…

 

Di rumah Allah yang suci ini, di hadapan Ka’bah yang dimuliakan,

kupanjatkan permohonan kepada Allah Yang Maha Cinta

agar doa yang sama dikabulkan pula untukmu…

 

Terima kasih, salam rinduku untukmu dari Baitullah di Makkah Al-Mukarramah…

😌🙏❤💕

 

By. Ustadz Syamsul Balda

Advertisements

KISAH NYATA TENTANG KEAJAIBAN UKHUWWAH

Standard

 

Syaikh Abbas Batawi -rahimahullah- adalah seorang petugas penyelenggara jenazah terkenal di KSA. Hampir seluruh hidupnya dihabiskan untuk mengurusi jenazah kaum muslimin di kota Jeddah.

Dalam sebuah wawancara yang disiarkan stasiun TV Al-Wathan beliau mengisahkan:

“Suatu hari, seperti biasa aku menyiapkan daftar wafat harian. Tiba-tiba rekan kerjaku memanggilku, “Wahai syaikh, kita kedatangan jenazah”.

“Baiklah, masukkan keruang pemandian. Aku akan ganti baju terlebih dahulu, setelah itu akan menyusul kalian.”

Begitu aku masuk keruang pemandian, Aku mendapati seorang pemuda yang meminta agar semua orang keluar dari tempat pemandian, tak terkecuali orang tua dan saudara si mayit.

Kalau saja aku tidak memakai baju kerja pasti dia juga sudah mengusirku.

Aku katakan padanya, “Baiklah, aku butuh satu atau dua orang untuk membantuku memandikan jasad ini”. Dengan cepat pemuda itu menjawab, “Biarkan aku sendiri yang akan membantumu”

Ketika aku mulai membuka wajah si mayit dan menanggalkan pakainnya satu-persatu, tiba-tiba pemuda itu menangis histeris. Aku lantas menegurnya. Aku katakan,

“Bila engkau tidak sanggup menahan tangis, maka tunggulah di luar, biar orang lain yang membantuku.”

“Tidak wahai syaikh.. Biarkan aku sendiri” jawabnya.

Saat aku menanggalkan pakaian terakhirnya dan mulai menekan perut si mayit untuk mengeluarkan sisa air atau kotoran, tiba-tiba ia menangis sejadi-jadinya.

“Sudah… Kamu keluar saja.” Kataku.

Pemuda itu menimpali, “Tidak.. Biarkan aku sendiri”

Baiklah.. Kalau kau terus begini maka si mayit akan tersiksa dengan tangisanmu.

Selang berapa lama, rasa penasaran membuatku bertanya: Apakah engkau kerabatnya.?

Pemuda itu menjawab, “Aku adalah saudaranya, bapaknya sekaligus ibunya”.

Aku bertanya lagi, kalau begitu kamu bukan saudaranya..?

Kamu mengusir semua orang padahal kamu bukan siapa-siapanya..?

Pemuda itu menjawab, “Aku lebih dari saudara, ibu dan bapaknya”.

Aku semakin merasa aneh. Baiklah aku akan memandikan terlebih dahulu.

Setelah proses memandikan selesai, pemuda itu motong kapas dan mengambilkan untukku segala keperluan pengafanan. Aku sempatkan bertanya padanya mengapa ia bisa menangis sekeras itu padahal ia bukan siapa-siapa si mayit.”

Pemuda itu menjawab, “Wahai syaikh… Apakah engkau pernah mendengar kisah persaudaraan seperti ini..?

“Sejak dulu kita belajar di bangku SD bersama, kemudian di jenjang SMP dan SMA juga bersama-sama. Kita lulus dari perkuliahan yang sama . Bahkan bekerja ditempat yang sama dan qadarullah kita menikahi dua wanita yang bersaudara.

Masing-masing kita dikaruniai putra dan putri. Kitapun tinggal di apartemen yang saling berhadapan.

Setiap ke masjid kita selalu bersama. Kemana-mana selalu bersama.

Demi Allah… Aku bertanya padamu, apakah disepanjang usiamu, engkau pernah tau ada persaudaraan seperti ini.? “Tidak.. Aku hanya bertemu saudaraku pada moment-moment tertentu saja.” jawabku.

Ya sudah, sekarang semuanya selesai. Masuklah ke dalam masjid dan perbanyaklah berdoa untuk saudaramu.

Di KSA pemakaman dibagi dalam beberapa deretan yang kami sebut Syarsurah.. Dalam satu deretan terdapat kurang lebih 30 makam yang siap digunakan. Semuanya bernomor. Setelah jenazahanya disholatkan, kami memakamkannya Syarsyurah no.7, makam nomor 10.

Keesokan harinya, saat aku mempersiapkan daftar wafat harian. Aku kedatangan jenazah lagi. Aku langsung masuk ke tempat pemandian, saat itu ayah si mayat turut hadir.

Ketika kubuka wajahnya, akupun berguman, “Sepertinya aku mengenal wajah ini. Aku katakan pada ayahnya, ” Sepertinya pemuda ini tidak asing bagiku.”

Tiba-tiba sang ayah menangis. “Wahai Syaikh.. Orang inilah yang kemarin membantumu mengurusi jenazah sahabatnya. Dia yang membantu mengguntingkan kapas dan kafan.

Sontak aku terdiam.

Kemarin dia membantuku mengurusi jenazah sahabatnya, dan kini aku sedang memandikannya.

Selama memandikannya air mataku terus mengalir membasahi jasadnya.

Aku terpikirkan betapa kematian datang tak mengenal waktu.

Aku bertanya pada ayahnya. Bagaimana ia meninggal..? Bagaimana kisahnya..?

Wahai Syaikh..

Sekembalinya dari pemakaman, tepatnya selepas menunaikan sholat dzuhur ia meminta kepada istrinya, untuk tidak membangunkannya makan siang. Ia minta diingtakatkan agar Selepas ashar mempersiapkan segala keperluan takziah untuk sahabatnya. Beberapa jam kemudian, istrinya mendapatinya sedang terbaring bertumpu pada lengan kanannya dalam keadaan tak bernafas. Ia meninggal karena kesedihan yang mendalam atas kepergian sahabatnya.

Setelah jenazahanya diselenggarakan, iapun dimakamkan di Syarayurah no. 7 di makam nomer 11 tepat di samping sahabatnya. Hanya dinding yang memisahkan meraka.

Masyaallah…

Mereka hidup bersama dan matipun bersama, semoga mereka dikumpulkan bersama di dalam surga.”

(Diterjemahkan dengan sedikit penyelarasan bahasa)

Catatan:

Dalam sebuah hadits, Jibril pernah berwasiat kepada Rasulullah, “Cintailah siapa yang engkau cintai, namun pasti engkau akan berpisah dengannya”.

Mungkin saja dua pemuda dalam diatas pernah berdo’a agar tidak dipisahkan di dunia dan akhirat. Sehingga perpisahan mereka di dunia tak kurang dari beberapa jam saja. Mahabbah fillah (cinta karena Allah) telah menyatukan mereka di dunia. Semoga kelak mereka akan disatukan di akhirat.

Kitapun berharap semoga kita dikumpulkan bersama orang-orang yang kita cintai dan mencintai kita karena Allah.

“Engkau akan bersama orang yang engkau cintai”. Begitulah sabda Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam-

Dalam munajatnya, nabi Daud -alaihissalam- pernah berdo’a:

Ya Allah…

Sesungguhnya aku memohon cinta-Mu

Dan cinta orang-orang yang mencintai-Mu

Akupin memohon kepada-Mu perbuatan yang dapat mengantarkan aku kepada cinta-Mu. Ya Allah…

Jadikanlah cinta-Mu lebih kucintai daripada diriku dan keluargaku serta air yang dingin.” (HR Tirmidzi 3412)

Munajat yang sama terpanjatkan pada-Mu ya Rabb. Amiin..

______________

Madinah 24-01-1437 H

ACT El-Gharantaly

HIDUPNYA

Standard

Renungan………………………….

Aku melihat hidupnya begitu indah,

Ternyata ia hanya menutupi keluhan.

Aku melihat hidupnya tak ada pedih,

Ternyata ia hanya menutupi dengan mensyukuri.

Aku melihat hidupnya tanpa ujian,

Ternyata ia begitu menikmati badai hujan.

aku melihat hidupnya sempurna,

Ternyata ia hanya menjadi apa adanya.

Aku melihat hidupnya beruntung,

Ternyata ia tunduk pada Allah untuk bergantung.

Aku belajar memahami,

Mengamati setiap hidup orang yang aku temui,

Ternyata aku yang kurang mensyukuri,

Bahwa di belahan dunia lain,

Masih ada yang belum seberuntung yang aku miliki.

Dan satu hal yang aku ketahui,

Bahwa Allahu Rabbi,

Tak pernah mengurangi,

Hanya akulah yang masih setia mengkufuri.

Suratan Ilahi…

Maka jangan iri hati dengan Rejeki orang lain…

Mungkin kau tak tau dimana rizkimu…

Tapi rizkimu tau dimana dirimu…

Dari lautan biru, bumi dan gunung…

Allah memerintahkannya menujumu…

Allah menjamin rizkimu, sejak 4 bulan 10 hari kau dalam kandungan ibumu…

Amatlah keliru bila bertawakkal rizki, dimaknai dari hasil bekerja…

Karena bekerja adalah ibadah… sedang rizki itu urusanNya…

Melalaikan kebenaran demi menghawatirkan apa yang dijaminNya…

Adalah kekeliruan berganda…

Manusia membanting tulang, demi angka simpanan gaji…

Yang mungkin esok akan ditinggal mati…

Mereka lupa bahwa hakekat rizki bukan apa yang tertulis dalam angka…

Tapi apa yang telah dinikmatinya…

Rizki tak selalu terletak pada pekerjaan kita…

Allah menaruh sekehendakNya…

Diulang bolak balik 7x shafa dan marwa…

Tapi zamzam justru muncul dari kaki bayinya…

Ikhtiar itu perbuatan…

Rizki itu kejutan…

Dan jangan lupa…

Tiap hakekat rizki akan ditanya…

“Darimana dan untuk apa”…

Karena rizki adalah “hak pakai”…

Halalnya dihisab…

Haramnya diadzab…

Maka, jangan kau iri pada rizki orang lain…

Bila kau iri pada rizkinya, kau juga harus iri pada takdir matinya…

Karena Allah membagi rizki, jodoh dan usia ummatnya…

Tanpa bisa tertukar satu dan lainnya…

Jadi yakinlah semua adalah dan atas kehendakNya…

 

Jumat berkah…

Salam Semangat dan Semoga bermanfaat 😊

Baarakallaahu fiikum…

KETIKA AMANAH TAK TERTUNAIKAN

Standard

 

Kau ingin menolaknya,

tapi bibir tak sanggup berkata TIDAK,

Kau ingin menghindarinya, tetapi ia terus memburumu.

 

Kau ingin memberitahu,

bahwa ini sudah tak bisa lagi menunggu.

Tapi … tetap saja, mereka tak percaya.

Mereka yakin, kau pasti bisa menyelesaikannya,

dengan SEMPURNA.

Ya Allah ….

Janganlah Engkau menghukum aku jika lupa atau berbuat salah.

Ya Robb ….

Janganlah Engkau membebani kami tanggungjawab seperti Engkau telah bebankan atas orang-orang sebelumnya.

Ya Tuhan ….

Janganlah Engkau membebaniku apa yg tak kuat menanggungnya.

Maafkanlah dan ampunilah aku karena Engkaulah Pelindungku.

Ketika ingin marah, aku ingat ada Allah tempat menenangkan jiwa.

Ketika merasa susah, aku ingat ada Allah tempat mengadu segala keluh kesah.

Ketika hati bersedih, aku ingat ada Allah tempat berbagi curahan hatiku.

Aku ingat firman-Mu:

Ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu.

Al Baqoroh:152

Ya Aziz ….

Ringankanlah langkahku …

Kuatkanlah bahuku …

Tegarkanlah hatiku …

Tambahkanlah tenagaku …

Indahkanlah hari-hariku …

Berkahilah waktuku.

 

Ya Rahiim ….

Ampuni aku jika meminta terlalu banyak,

Maafkan aku jika menuntut terlalu berlebih,

dengan Maghfiroh-Mu …. maklumilah keadaan diri yg kurang bersyukur ini.

Wahai Sang Pemilik diri, janganlah tinggalkan aku sendiri … dalam kelelahanku di tengah gelombang badai kehidupan.

Biarkan aku istirahat sejenak dimalam penuh syahdu dlm pelukan-Mu. Aamiin …

 

Curahan Qolbu Q kepadaMu yaa Robb….

by. fauziah

TOPLES, BOLA PINGPONG, KELERENG, PASIR DAN SECANGKIR KOPI

Standard

* Seorang guru besar di depan audiens nya memulai materi kuliah dengan menaruh topless yg bening & besar di atas meja.

* Lalu sang guru mengisinya dengan bola tenis hingga tidak muat lagi. Beliau bertanya: “Sudah penuh?”

* Audiens menjawab: “Sdh penuh”.

* Lalu sang guru mengeluarkan kelereng dari kotaknya & memasukkan nya ke dlm topless tadi. Kelereng mengisi sela2 bola tenis hingga tdk muat lagi. Beliau bertanya: “Sdh penuh?”

* Audiens mjwb: “Sdh penuh”.

* Setelah itu sang guru mengeluarkan pasir pantai & memasukkan nya ke dlm topless yg sama. Pasir pun mengisi sela2 bola & kelereng hingga tdk bisa muat lagi. Semua sepakat kalau topless sdh penuh & tdk ada yg bisa dimasukkan lg ke dalamnya.

* Tetapi terakhir sang guru menuangkan secangkir air kopi ke dalam toples yg sdh penuh dgn bola, kelereng & pasir itu.

Sang Guru kemudian menjelaskan bahwa:

“Hidup kita kapasitasnya terbatas spt topless. Masing2 dari kita berbeda ukuran toplesnya:

– Bola tenis adalah hal2 besar dlm hidup kita, yakni tanggung-jawab thdp Tuhan, orang tua, istri/suami, anak2, serta makan, tempat tinggal & kesehatan.

– Kelereng adalah hal2 yg penting, spt pekerjaan, kendaraan, sekolah anak, gelar sarjana, dll.

– Pasir adalah yg lain2 dlm hidup kita, seperti olah raga, nyanyi, rekreasi, Facebook, BBM, WA, nonton film, model baju, model kendaraan dll.

– Jika kita isi hidup kita dgn mendahulukan pasir hingga penuh, maka kelereng & bola tennis tdk akan bisa masuk. Berarti, hidup kita hanya berisikan hal2 kecil. Hidup kita habis dgn rekreasi dan hobby, sementara Tuhan dan keluarga terabaikan.

– Jika kita isi dgn mendahulukan bola tenis, lalu kelereng dst seperti tadi, maka hidup kita akan lengkap, berisikan mulai dr hal2 yg besar dan penting hingga hal2 yg menjadi pelengkap.

Karenanya, kita harus mampu mengelola hidup secara cerdas & bijak. Tahu menempatkan mana yg prioritas dan mana yg menjadi pelengkap.

Jika tidak, maka hidup bukan saja tdk lengkap, bahkan bisa tidak berarti sama sekali”.

* Lalu sang guru bertanya: “Adakah di antara kalian yg mau bertanya?”

Semua audiens terdiam, karena sangat mengerti apa inti pesan dlm pelajaran tadi.

* Namun, tiba2 seseorang nyeletuk bertanya: “Apa arti secangkir air kopi yg dituangkan tadi …..?”

* Sang guru besar menjawab sbg penutup: “Sepenuh dan sesibuk apa pun hidup kita, jgn lupa masih bisa disempurnakan dgn bersilaturahim sambil “minum kopi” ….. dgn tetangga, teman, sahabat yg hebat. Jgn lupa sahabat lama.

Saling bertegur sapa, saling senyum bila berpapasan ….. betapa indahnya hidup ini

CERDAS AKHLAK

Standard

Sangat bgus untuk dibaca dan direnungkan…..

Semoga mencerahkan dan bagi penulis dan yg membagikan  mendapat balasan yang berlipat ganda dari Allah, SWT, Aamiin.

 

“ Goblok kamu ya…” Kata Suamiku sambil melemparkan buku lapor sekolah Doni. Kulihat suamiku berdiri dari tempat duduknya dan kemudian dia menarik kuping Doni dengan keras. Doni meringis. Tak berapa lama Suamiku pergi kekamar dan keluar kembali membawa penepuk nyamuk. Dengan garang suamiku memukul Doni berkali kali dengan penepuk nyamuk itu. Penepuk nyamuk itu diarahkan kekaki, kemudian ke punggung dan terus , terus. Doni menangis “ Ampun, ayah ..ampun ayah..” Katanya dengan suara terisak isak. Wajahnya memancarkan rasa takut. Dia tidak meraung. Doni ku tegar dengan siksaan itu. Tapi matanya memandangku. Dia membutuhkan perlindunganku. Tapi aku tak sanggup karena aku tahu betul sifat suamiku.

“Lihat adik adikmu. Mereka semua pintar pintar sekolah. Mereka rajin belajar. Ini kamu anak tertua malah malas dan tolol Mau jadi apa kamu nanti ?. Mau jadi beban adik adik kamu ya…he “ Kata suamiku dengan suara terengah engah kelelahan memukul Doni. Suamiku terduduk dikorsi. Matanya kosong memandang kearah Doni dan kemudian melirik kearah ku “ Kamu ajarin dia. Aku tidak mau lagi lihat lapor sekolahnya buruk. Dengar itu. “ Kata suamiku kepadaku sambil berdiri dan masuk kekamar tidur.

Kupeluk Doni. Matanya memudar. Aku tahu dengan nilai lapor buruk dan tidak naik kelas saja dia sudah malu apalagi di maki maki dan dimarahi didepan adik adiknya. Dia malu sebagai anak tertua. Kembali matanya memandangku. Kulihat dia butuh dukunganku. Kupeluk Doni dengan erat “ Anak bunda, tidak tolol. Anak bunda pintar kok. Besok ya rajin ya belajarnya”

“ Doni udah belajar sungguh sungguh, bunda, Bunda kan lihat sendiri. Tapi Doni memang engga pintar seperti Ruli dan Rini. Kenapa ya Bunda” Wajah lugunya membuatku terenyuh.. Aku menangis “ Doni, pintar kok. Doni kan anak ayah. Ayah Doni pintar tentu Doni juga pintar. “

“ Doni bukan anak ayah.” Katanya dengan mata tertunduk “ Doni telah mengecewakan Ayah, ya bunda “

Malamnya , adiknya Ruli yang sekamar dengannya membangunkan kami karena ketakutan melihat Doni menggigau terus. Aku dan suamiku berhamburan kekamar Doni. Kurasakan badannya panas.Kupeluk Doni dengan sekuat jiwaku untuk menenangkannya. Matanya melotot kearah kosong. Kurasakan badannya panas. Segera kukompres kepalanya dan suamiku segera menghubungi dokter keluarga. Doni tak lepas dari pelukanku “ Anak bunda, buah hati bunda, kenapa sayang. Ini bunda,..” Kataku sambil terus membelai kepalanya. Tak berapa lama matanya mulai redup dan terkulai. Dia mulai sadar. Doni membalas pelukanku. ‘ Bunda, temani Doni tidur ya.” Katanya sayup sayup. Suamiku hanya menghelap nafas. Aku tahu suamiku merasa bersalah karena kejadian siang tadi.

Doni adalah putra tertua kami. Dia lahir memang ketika keadaan keluarga kami sadang sulit. Suamiku ketika itu masih kuliah dan bekerja serabutan untuk membiayai kuliah dan rumah tangga. Ketika itulah aku hamil Doni. Mungkin karena kurang gizi selama kehamilan tidak membuat janinku tumbuh dengan sempurna. Kemudian , ketika Doni lahir kehidupan kami masih sangat sederhana. Masa balita Doni pun tidak sebaik anak anak lain. Diapun kurang gizi. Tapi ketika usianya dua tahun, kehidupan kami mulai membaik seiring usainya kuliah suamiku dan mendapatkan karir yang bagus di BUMN. Setelah itu aku kembali hamil dan Ruli lahir., juga laki laki dan dua tahu setelah itu, Rini lahir, adik perempuannya. Kedua putra putriku yang lahir setelah Doni mendapatkan lingkungan yang baik dan gizi yang baik pula. Makanya mereka disekolah pintar pintar. Makanya aku tahu betul bahwa kemajuan generasi ditentukan oleh ketersediaan gixi yang cukup dan lingkungan yang baik.

Tapi keadaan ini tidak pernah mau diterima oleh Suamiku. Dia punya standard yang tinggi terhadap anak anaknya. Dia ingin semua anaknya seperti dia. Pintar dan cerdas. “ Masalah Doni bukannya dia tolol, Tapi dia malas. Itu saja. “ Kata suamiku berkali kali. Seakan dia ingin menepis tesis tentang ketersediaan gizi sebagai pendukung anak jadi cerdas. “ Aku ini dari keluarga miskin. Manapula aku ada gizi cukup. Mana pula orang tuaku ngerti soal gixi. Tapi nyatanya aku berhasil. “ Aku tak bisa berkata banyak untuk mempertahankan tesisku itu.

Seminggu setelah itu, suamiku memutuskan untuk mengirim Doni kepesantren. AKu tersentak.

“ Apa alasan Mas mengirim Doni ke Pondok Pesantren “

“ Biar dia bisa dididik dengan benar”

“ Apakah dirumah dia tidak mendapatkan itu”

“ Ini sudah keputusanku, Titik.

“ tapi kenapa , Mas” AKu berusaha ingin tahu alasan dibalik itu.

Suamiku hanya diam. Aku tahu alasannya.Dia tidak ingin ada pengaruh buruk kepada kedua putra putri kami. Dia malu dengan tidak naik kelasnya Doni. Suamiku ingin memisahkan Doni dari adik adiknya agar jelas mana yang bisa diandalkannya dan mana yang harus dibuangnya. Mungkinkah itu alasannya. Bagaimanapun , bagiku Doni akan tetap putraku dan aku akan selalu ada untuknya. Aku tak berdaya. Suamiku terlalu pintar bila diajak berdebat.

Ketika Doni mengetahui dia akan dikirim ke Pondok Pesantren, dia memandangku. Dia nanpak bingung. Dia terlalu dekat denganku dan tak ingin berpisah dariku.

Dia peluk aku “ Doni engga mau jauh jauh dari bunda” Katanya.

Tapi seketika itu juga suamiku membentaknya “ Kamu ini laki laki. TIdak boleh cengeng. Tidak boleh hidup dibawah ketika ibumu. Ngerti. Kamu harus ikut kata Ayah. Besok Ayah akan urus kepindahan kamu ke Pondok Pesantren. “

Setelah Doni berada di Pondok Pesantren setiap hari aku merindukan buah hatiku. Tapi suamiku nampak tidak peduli. “ Kamu tidak boleh mengunjunginya di pondok. Dia harus diajarkan mandiri. Tunggu saja kalau liburan dia akan pulang” Kata suamiku tegas seakan membaca kerinduanku untuk mengunjungi Doni.

Tak terasa Doni kini sudah kelas 3 Madrasa Aliyah atau setingkat SMU. Ruli kelas 1 SMU dan Rini kelas 2 SLP. Suamiku tidak pernah bertanya soal Raport sekolahnya. Tapi aku tahu raport sekolahnya tak begitu bagus tapi juga tidak begitu buruk. Bila liburan Doni pulang kerumah, Doni lebih banyak diam. Dia makan tak pernah berlebihan dan tak pernah bersuara selagi makan sementara adiknya bercerita banyak soal disekolah dan suamiku menanggapi dengan tangkas untuk mencerahkan. Walau dia satu kamar dengan adiknya namun kamar itu selalu dibersihkannya setelah bangun tidur. Tengah malam dia bangun dan sholat tahajud dan berzikir sampai sholat subuh.

Ku purhatikan tahun demi tahu perubahan Doni setelah mondok. Dia berubah dan berbeda dengan adik adiknya. Dia sangat mandiri dan hemat berbicara. Setiap hendak pergi keluar rumah, dia selalu mencium tanganku dan setelah itu memelukku. Beda sekali dengan adik adiknya yang serba cuek dengan gaya hidup modern didikan suamiku.

Setamat Madrasa Aliyah, Doni kembali tinggal dirumah. Suamiku tidak menyuruhnya melanjutkan ke Universitas. “ Nilai rapor dan kemampuannya tak bisa masuk universitas. Sudahlah. Aku tidak bisa mikir soal masa depan dia. Kalau dipaksa juga masuk universitas akan menambah beban mentalnya. “ Demikian alasan suamiku. Aku dapat memaklumi itu. Namun suamiku tak pernah berpikir apa yang harus diperbuat Doni setelah lulus dari pondok. Donipun tidak pernah bertanya. Dia hanya menanti dengan sabar.

Selama setahun setelah Doni tamat dari mondok, waktunya lebih banyak di habiskan di Masjid. Dia terpilih sebagai ketua Remaja Islam Masjid. Doni tidak memilih Masjid yang berada di komplek kami tapi dia memilih masjid diperkampungan yang berada dibelakang komplek. Mungkin karena inilah suamiku semakin kesal dengan Doni karena dia bergaul dengan orang kebanyakan. Suamiku sangat menjaga reputasinya dan tak ingin sedikitpun tercemar. Mungkin karena dia malu dengan cemoohan dari tetangga maka dia kadang marah tanpa alasan yang jelas kepada Doni. Tapi Doni tetap diam. Tak sedikitpun dia membela diri.

Suatu hari yang tak pernah kulupakan adalah ketika polisi datang kerumahku. Polisi mencurigai Doni dan teman temannya mencuri di rumah yang ada di komplek kami. Aku tersentak. Benarkah itu. Doni sujud dikaki ku sambil berkata “ Doni tidak mencuri , Bunda. TIdak, Bunda percayakan dengan Doni. Kami memang sering menghabiskan malam di masjid tapi tidak pernah keluar untuk mencuri.” Aku meraung ketika Doni dibawa kekantor polisi. Suamiku dengan segala daya dan upaya membela Doni. Alhamdulilah Doni dan teman temannya terbebaskan dari tuntutan itu. Karena memang tidak ada bukti sama sekali. Mungkin ini akibat kekesalan penghuni komplek oleh ulah Doni dan kawan kawan yang selalu berzikir dimalam hari dan menggangu ketenangan tidur.

Tapi akibat kejadian itu , suamiku mengusir Doni dari rumah. Doni tidak protes. Dia hanya diam dan menerima keputusan itu. Sebelum pergi dia rangkul aku” Bunda , Maafkanku. Doni belum bisa berbuat apapun untuk membahagiakan bunda dan Ayah. Maafkan Doni “ Pesanya. Diapun memandang adiknya satu satu. Dia peluk mereka satu persatu “ Jaga bunda ya. Mulailah sholat dan jangan tinggalkan sholat. Kalian sudah besar .” demikian pesan Doni. Suamiku nampak tegar dengan sikapnya untuk mengusir DOni dari rumah.

“ Mas, Dimana Doni akan tinggal. “ Kataku dengan batas kekuatan terakhirku membela Doni.

“ Itu bukan urusanku. Dia sudah dewasa. Dia harus belajar bertanggung jawab dengan hidupnya sendiri.

***

Tak terasa sudah enam tahun Doni pergi dari Rumah. Setiap bulan dia selalu mengirim surat kepadaku. Dari suratnya kutahu Doni berpindah pindah kota. Pernah di Bandung, Jakarta, Surabaya dan tiga tahun lalu dia berangkat ke Luar negeri. Bila membayangkan masa kanak kanaknya kadang aku menangis. Aku merindukan putra sulungku. Setiap hari kami menikmati fasilitas hidup yang berkecukupan. Ruli kuliah dengan kendaraan bagus dan ATM yang berisi penuh. Rinipun sama. Karir suamiku semakin tinggi. Lingkungan social kami semakin berkelas. Tapi, satu putra kami pergi dari kami. Entah bagaimana kehidupannya. Apakah dia lapar. Apakah dia kebasahan ketika hujan karena tidak ada tempat bernaung. Namun dari surat Doni , aku tahu dia baik baik saja. Dia selalu menitipkan pesan kepada kami, “ Jangan tinggalkan sholat. Dekatlah kepada Allah maka Allah akan menjaga kita siang dan malam. “

 

***

Prahara datang kepada keluarga kami. Suamiku tersangkut kasus Korupsi. Selama proses pemeriksaan itu suamiku tidak dibenarkan masuk kantor. Dia dinonaktifkan. Selama proses itupula suamiku nampak murung. Kesehatannya mulai terganggu. Suamiku mengidap hipertensii. Dan puncaknya , adalah ketika Polisi menjemput suamiku di rumah. Suamiku terbukti melakukan tindak pidana korupsi. Rumah dan semua harta yang selama ini dikumpulkan disita oleh negara. Media maassa memberitakan itu setiap hari. Reputasi yang selalu dijaga oleh suamiku selama ini ternyata dengan mudah hancur berkeping keping. Harta yang dikumpul, sirna seketika. Kami sekeluarga menjadi pesakitan. Ruli malas untuk terus keliah karena malu dengan teman temannya. Rini juga sama yang tak ingin terus kuliah.

Kini suamiku dipenjara dan anak anak jadi bebanku dirumah kontrakan. Ya walau mereka sudah dewasa namun mereka menjadi bebanku. Mereka tak mampu untuk menolongku. Baru kutahu bahwa selama ini kemanjaan yang diberikan oleh suamiku telah membuat mereka lemah untuk survival dengan segala kekurangan. Maka jadilah mereka bebanku ditengah prahara kehidupan kami. Pada saat inilah aku sangat merindukan putra sulungku. Ditengah aku sangat merindukan itulah aku melihat sosok pria gagah berdiri didepan pintu rumah.

Doniku ada didepanku dengan senyuman khasnya. Dia menghambur kedalam pelukanku. “ Maafkan aku bunda, Aku baru sempat datang sekarang sejak aku mendapat surat dari bunda tentang keadaan ayah. “ katanya. Dari wajahnya kutahu dia sangat merindukanku. Rini dan Ruli juga segera memeluk Doni. Mereka juga merindukan kakaknya. Hari itu, kami berempat saling berpelukan untuk meyakinkan kami akan selalu bersama sama.

Kehadiran Doni dirumah telah membuat suasana menjadi lain. Dengan bekal tabungannya selama bekerja diluar negeri, Doni membuka usaha percetakan dan reklame. Aku tahu betul sedari kecil dia suka sekali menggambar namun hobi ini selalu di cemoohkan oleh ayahnya. Doni mengambil alih peran ayahnya untuk melindungi kami. Tak lebih setahu setelah itu, Ruli kembali kuliah dan tak pernah meninggalkan sholat dan juga Rini. Setiap maghrib dan subuh Doni menjadi imam kami sholat berjamaah dirumah. Seusai sholat berjaman Doni tak lupa duduk bersilah dihadapan kami dan berbicara dengan bahasa yang sangat halus , beda sekali dengan gaya ayahnya

“ Manusia tidak dituntut untuk terhormat dihadapan manusia tapi dihadapan Allah. Harta dunia, pangkat dan jabatan tidak bisa dijadikan tolok ukur kehormatan. Kita harus berjalan dengan cara yang benar dan itulah kunci meraih kebahagiaan dunia maupun akhirat. Itulah yang harus kita perjuangkan dalam hidup agar mendapatkan kemuliaan disisi Allah. . Dekatlah kepada Allah maka Allah akan menjaga kita. Apakah ada yang lebih hebat menjaga kita didunia ini dibandingkan dengan Allah. “

“ Apa yang menimpa keluarga kita sekarang bukanlan azab dari Allah. Ini karena Allah cinta kepada Ayah. Allah cinta kepada kita semua karena kita semua punya peran hingga membuat ayah terpuruk dalam perbuatan dosa sebagai koruptor. Allah sedang berdialogh dengan kita tentang sabar dan ikhlas, tentang hakikat kehidupan, tentang hakikat kehormatan. Kita harus mengambil hikmah dari ini semua untuk kembali kepada Allah dalam sesal dan taubat. Agar bila besok ajal menjemput kita, tak ada lagi yang harus disesalkan, Karna kita sudah sangat siap untuk pulang keharibaan Allah dengan bersih. “

Seusai Doni berbicara , aku selalu menangis. Doni yang tidak pintar sekolah, tapi Allah mengajarinya untuk mengetahui rahasia terdalam tentang kehidupan dan dia mendapatkan itu untuk menjadi pelindung kami dan menuntun kami dalam taubah. Ini jugalah yang mempengaruhi sikap suamiku dipenjara. Kesehatannya membaik. Darah tingginya tak lagi sering naik. Dia ikhlas dan sabar , dan tentu karena dia semakin dekat kepada Allah. Tak pernah tinggal sholat sekalipun. Zikir dan linangan airmata sesal akan dosanya telah membuat jiwanya tentram. Mahasuci Allah , terimakasih anakku…

Ini sebuah bahan renungan bagi kita, terutama bagi kaum bapak……

:: PARENTING NABAWIYYAH ::

Standard

✅ Lelah mendidik anak? Itu adalah bukti bahwa anda belum menikmati proses dan hasil mendidik anak.

✅ Apakah kita bahagia setelah anak kita sukses (sarjana, dapat kerja, dll)? Itu terlalu lama. Apalagi kalau anaknya banyak.

✅ Anak-anak itu aset. Bukan beban. Anak sholeh yang bisa mendoakan orang tuanya, itu aset. Ketika kita meninggal, maka yang paling berhak mensholatkan kita adalah anak kita. Itu aset. Sholat jenazah itu isinya doa semua. Anak itu kekayaan di dunia dan akhirat.

✅ Rosululloh bersabda: “Kamu (anak lelaki) dan hartamu milik orang tuamu.”

✅ Artinya, walaupun sudah menikah, orang tua punya hak atas harta kita.

Anak-anak yang kita dorong untk menghafal Al Qur’an 30 juz kelak di hari kiamat yang mendapat keistimewaan bukan hanya anak itu, tapi juga orang tuanya (mahkota).

✅ Hilangkan anggapan bahwa anak-anak itu beban. Anak-anak kita tidak numpang hidup pada kita. Numpang? Anda sombong. Bayi lahir sudah membawa rezekinya. Yang menjadi masalah adalah kita belum “percaya” pada Alloh.

✅ Tidak ingin punya anak banyak karena biaya pendidikan mahal? Logis. Tapi itu iman belum berperan.

Kalau anak adalah aset, maka kita ingin punya sedikit atau banyak?

✅ Apa fungsinya sabar dan syukur kalau bukan untuk bahagia. Tawakkal. Petani itu bahagia saat tanamannya tumbuh baik, padahal belum panen. Saat hujan turun, padahal belum menanam.

✅ Jadi bahagia itu jangan tunggu panen, jangan tunggu sampai anak besar. Asal prosesnya baik. Kalau seperti ini, maka orang tua akan bahagia sepanjang usia anaknya.

✅ Ada masanya ketika orang tua panen raya. Syaratnya, hanya dengan cara Islam. Mendidik anak itu persis seperti menanam pohon.

Alloh berfirman dalam QS. 3:35-37, didik anak dengan pertumbuhan yang baik.

✅ Di akhir QS. Al Fath berbicara tentang proses pertumbuhan tanaman hingga ia kokoh. Tapi dalam ayat ini Alloh tidak membahas hingga tanaman tersebut berbuah. Namun hingga tahap ini sudsh menyenangkan hati penanamnya.

✅ Alloh berbicara ini (tanaman) ketika Rosul mendidik sahabat-sahabatnya.

Dalam surat ini, belum panen saja Alloh sudah memberikan kebahagiaan.

✅ Anak kita yang menanam siapa? Kita. Setiap proses pertumbuhannya kita merasakan bahagia.

✅ Lalu kapan Alloh bicara buahnya? Di QS. Ibrohim: 24-25. Baiknya anak kita nanti, maka itu adalah hak Alloh. Tugas kita adalah menanamnya dengan baik. Semoga kelak Alloh mengizinkan agar hasilnya baik juga.

✅ Tapi ingat, pohon itu kan yang kita konsumsi bukan hanya buahnya. Mendidik anak juga sama. Tetapi itu dengan izin Alloh. Maka didiklah anak kita dengan maksimal. Ikuti caranya.

✅ Dalam sebuah hadits Rosululloh menyampaikan bahwa ada sebuah pohon. Dimana Keberkahan pohon itu seperti keberkahan seoranng mukmin. Pohon apa itu? Pohon kurma.

✅ Pelajari pohon kurma untuk mendidikan anak kita. Pohon kurma itu berkah, kata Rosul. Kurma itu berbuahnya perlu waktu lama, sekitar 8 tahun. Tapi hasilnya juga sesuai dengan kesabaran kita memetik buahnya.

✅ Sama seperti pohon zaitun yang bisa menopang perekonomian Spanyol. Jika pohon ini baik, maks ia akan lebih panjang dari usia kita.

✅ Pohon ini usianya ratusan tahun. Terus berbuah. Nutrisi kurma berbeda dengan nasi. Sesuai dengan kesabaran menunggunya berbuah.

✅ Yang tumbuh pertama dari pohon kurma adalah thol/ mayang/ bakal buah, tapi perlu dikawinkan dulu. Berdasarkan hasil penelitian, mayang jantan kurma, memiliki warna, aroma, dan fungsi yang mirip seperti sperma manusia.

✅ Mayang, akan tumbuh berwarna hijau (kholal), menyenangkan dari segi pemandangan walau rasanya belum manis. Anak kita pun demikian.

✅ Susui dengan cara yang benar. Usia 3-6 tahun adalah usia yang sangat penting mendapatkan sentuhan dari orang tuanya karena sedang pandai untuk meniru.

✅ Konsep pendidikan yang paling tepat di saat itu adalah keteladanan. Memang belum manis. Tapi kalau anak berperilaku baik dan lucu akan menyenangkan.

✅ Setelah kholal kemudian akan menjadi berwarna kuning. Mulai ada sedikit rasa manisnya. Setiap fase ada warna-warna indah pada anak-anak kita.

✅ Kemudian berwarna merah (balah). Rasanya sudah mulai enak. Kalau sudah usia 7 tahun Nabi perintahksn untk sholat. Dijaga hingga 10 tahun. Evaluasi. Bacaannya. Masih disuruh-suruh atau tidak. Bahkan Nabi memerintahkan untuk memukul dengan pukulan pendidikan. Jika sholatnya baik, yang lainnya akan baik. Dan perjelas status dia laki-laki atau perempuan. Pisahkan tempat tidur mereka. Apalagi dengan orang lain.

✅ Usia 10 tahun seharusnya sudah tidak boleh cium tangan dengan gurunya. Sebaiknya pendidikan dipisah mulai usia 10 tahun. Pelanggaran di tahap ini akan buruk di usia berikutnya.

✅ Tanamkan ilmu agama terlebih dahulu. Bukan ilmu umum dulu. Bacakan ayat-ayat Al Qur’an. Sucikan hati mereka. Ajari ilmu tafsir dan ilmu hadits Nabi. Sesuai dengan QS. Al Jumu’ah: 2. Lalu kemana ilmu eksak? Itu nanti. Ada di dalam QS. Al Baqoroh.

✅ Fase rusyda. Usia baligh. Bicara masalah harta. QS. An-nisaa’: 5 dan 6. Kemampuan menyimpan dan mengembangkan uang dengan baik, dll.

✅ Kemudian kurma itu dari berwarna merah menjadi ruthob. Warnanya coklat. Rasanya manis sekali. Pada saat inilah anak akan berperilaku baik dengan sendirinya karena telah ditanamkan nilai-nilai kebaikan pada fase-fase sebelumnya.

✅ Semoga kelak anak kita menjadi anak yang sholih dan sholihah. Aamiin.

 

📚 Oleh: Budi Ashari, Lc.

💖 MUSLIM CERDAS 💓 MUSLIMAH CERDAS 💖

💬 Share yuk mudah-mudahan teman anda mendapat faedah ilmu dari status yang anda bagikan dan menjadi pembuka pintu amal kebaikan bagi Anda …..

PUISI UNTUK MU GURU

Standard
Waktu Terasa cepat bergulir
Hari ini Seperti dahulu
Awal bertemu
Seuntai kasih
Pembawa cerita
Ceria…
Hari ini hari bahagia
Hanya berbait kata
Untuk bapak guru
Selamat ulang tahun
Berkah untuk mu
Sehat menatamu
Sukses mengiringi mu
Bahagia mengelilingimu
Hanya untaian doa yang terucap
Untuk mu….
Guru..teman..sahabat
Tanpa lelah…
Menuang ikhlas
Membuang benci
Membendung sedih
Menebar cinta
Membagi riang
Menggaung ilmu Allah
Terimakasih segala kata penuh hikmah
Menyentuh hati menuju bahagia
Merangkul raga dalam asa
Menghapus duka dengan rasa
Menggapai cita diujung senja
Menuntun langkah mengingat Allah
Menuju indah nya syurga…
Selamat ulang tahun
Bapak guru
Sehat selalu untuk mu
Jakarta, 11 maret 2015
Dari kami keluarga besar
Institute Of Quantum Life Indonesia ❤

BELAJAR EMPATI…

Standard
Sore itu di dalam KRL jurusan Jakarta – Depok, suasana cukup sepi. Kereta listrik itu cukup padat oleh orang2 yg baru pulang kerja. Tiba2, suara hening terganggu oleh ulah dua orang bocah kecil berumur sekitar 3 dan 5 tahun yg berlarian kesana kemari. Mereka berdua mulai mengganggu penumpang lain.
Yg kecil mulai menarik2 koran yg sedang dibaca oleh seorang penumpang, kadang merebut pena ataupun buku penumpang yg lain. Si kakak berlarian kesana kemari hingga  menabrak kaki bbrp penumpang yg berdiri menggantung karena penuhnya gerbong itu. Beberapa penumpang mulai terganggu oleh ulah kedua bocah nakal itu, dan bbrp orang mulai menegur bapak dari kedua anak tsb.
“Pak, tolong dong anaknya dijaga!” pinta salah seorang penumpang.  Bapak kedua anak itu memanggil dan menenangkannya. Suasana kembali hening, dan kedua anak itu duduk diam.
Tak lama kmdn, keduanya mulai bertingkah seperti semula, bahkan semakin nakal. Apabila ada yg diusilin masih diam saja, kedua anak itu makin berani. Bahkan ada yg korannya sedang dibaca, langsung saja ditarik dan dibawa lari. Bila si-empunya koran tidak bereaksi, koran itu mulai dirobek2. Bbrp penumpang mulai menegur sang ayah lagi dg nada mulai kesal. Mereka benar2 merasa terganggu, apalagi suasana pulang kerja, mereka masih sangat lelah.
Sang ayah yg masih muda dan terlihat sangat sederhana, memanggil kembali kedua anaknya, dan keduanya mulai diam lagi. Tapi hal itu tidak berlangsung lama. Si anak mulai membuat ulah yg semakin membuat para penumpang di gerbong itu mulai marah.
Beberapa penumpang mulai memarahi sang ayah dan membentak.
“Pak, bisa mendidik anak tidak sih!” kata seorang penumpang dg geram. “Dari tadi anaknya mengganggu semua orang disini, tapi Anda koq diam saja”.
Sang ayah bangkit dari duduknya, menghampiri kedua anaknya yg masih mungil, menenangkannya, dan dg sangat sopan berdiri dan berkata kepada para penumpang yg ada di gerbong itu.
“Bapak2 dan ibu2 semua, mohon maaf atas kelakuan kedua anak saya ini. Tidak biasanya mereka berdua bertingkah nakal seperti saat ini. Tadi pagi, kedua anak saya ini baru saja di tinggal oleh ibu mereka yg sangat mereka cintai. Ibu kedua anak saya ini meninggal karena penyakit LEUKEMIA yg dideritanya…”
Bapak sederhana itu diam sejenak, terlihat airmatanya menggenang di pelupuk matanya, dan sambil mengelus kepala kedua anaknya meneruskan kata2nya. “Mungkin karena kejadian yg menimpa ibu mereka berdua itu begitu mendadak, membuat kedua anak saya ini belum bisa menerima kenyataan dan agak sedikit shock karenanya. Sekali lagi saya mohon maaf…”
Seluruh orang di dalam gerbong kereta KRL itu seketika terdiam. Sikap mereka tiba2 berubah total, dari memandang dg perasaan kesal karena kenakalannya, berubah menjadi perasaan iba dan sayang. Kedua anak itu masih tetap nakal, mengganggu seluruh penumpang yg ditemuinya. Tetapi, orang yg diganggu malah menampakkan kasih sayangnya. Ada yg memberinya coklat, bahkan ada yg menemaninya bermain…
*******
Saudara-riku tercinta…
Begitu pentingnya sebuah INFORMASI… bisa mengubah semua atmosphere lingkungan kita. Seringkali kita salah paham dg sahabat/ saudara kita, karena kita tidak mengetahui informasi yg sebenarnya, hingga membuat atmosphere yg buruk dg sahabat kita. Mungkin kita pernah berprasangka buruk kpd saudara kita, karena tidak tabayun/klarifikasi informasi yg sebenarnya.
Selalulah berprasangka dan berfikir positif. Karena prasangka itu akan selalu kembali kepada diri kita sendiri.
“Hai orang2 yg beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), karena prasangka (negatif) itu dosa. Dan janganlah mencari2 keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yg suka memakan daging saudaranya yg sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. (QS.49:12)
😌💕❤

TRUK SAMPAH

Standard
Suatu hari saya naik taxi menuju ke Bandara. Taxi melaju pada  jalur yang benar, ketika tiba2 sebuah mobil hitam melompat keluar dari tempat parkir tepat di depan kami, Supir taxi menginjak pedal rem dalam2 hingga ban mobil berdecit dan berhenti hanya beberapa cm dari mobil tsb.
Pengemudi mobil hitam yg ngawur tsb mengeluarkan kepalanya & memaki maki ke arah kami.
Supir taxi hanya tersenyum & melambai pada orang tsb. Saya sangat heran dan aneh dg sikapnya itu.
Saya pun bertanya, “Mengapa bapak tidak marah bahkan tersenyum? Bukankah orang itu hampir merusak mobil bapak dan dapat saja mengirim kita ke rumah sakit?”
Ia menjelaskan, “Banyak orang yg seperti truk sampah. Mereka berjalan keliling membawa sampah. Sampah kemarahan, kekecewaan, frustasi dan emosi negatif lainnya.
Seiring dg semakin penuh bak sampahnya, semakin mereka membutuhkan tempat untuk membuangnya & seringkali mereka membuangnya kepada anda.
Jangan ambil hati, tersenyum saja, lambaikan tangan, lalu lanjutkan hidup anda.
Jangan ambil sampah mereka untuk kembali membuangnya kepada orang lain yg anda temui di tempat kerja, di rumah atau dalam perjalanan.”
Saat itulah saya belajar dari supir taxi itu mengenai apa yg saya kemudian sebut “Kaidah Truk Sampah”.
Intinya, orang yg sukses adalah orang yg tidak membiarkan “truk sampah” mengambil alih hari2 mereka dg merusak suasana hati…
*****
Saudaraku…
Hidup itu 10% mengenai apa yg kita buat dengannya dan 90% tentang bagaimana kita menyikapinya …
You choose to be Happy or Grumpy…
Hidup ini jangan diisi dg penyesalan, maka cintailah orang yg memperlakukan kita dg benar, berdoalah bagi yg memperlakukan kita tidak benar
Hidup bukan tentang bagaimana menunggu badai berlalu, tapi tentang bagaimana belajar menari dlm hujan badai.
Jangan pernah menghakimi orang lain,
Berusahalah menjadi pribadi bijak & mencoba belajar memahami orang lain.
Semangat pagi dan selamat beraktivitas…
Semoga hari2mu menyenangkan…
😊💕❤