TENTANG FITNAH ITU… 

Standard
“Ustadz,  maafkan saya! Maafkan saya!” Aku tersungkur-sungkur di kaki ust Hisyam. Aku memegangi dua tungkai kakinya. Aku berusaha merendahkan kepalaku sedalam2nya. Tetes2 air mata mulai mengaliri kedua pipiku. “Maafkan saya, ustadz… Maafkan saya…” Aku terus-menerus mengulangi kalimat itu.
Dua tangan ust Hisyam memegang lengan kiri dan kananku, “Bangunlah,” katanya, “Aku sudah memaafkanmu.”
“Tapi, ustadz…” Aku terus berusaha merendahkan diriku di hadapan ust Hisyam yg sedang berdiri, “Bagaimana mungkin semudah itu? Bagaimana mungkin semudah itu?
Kali ini ust Hisyam mencengkram kedua bahuku dan berusaha mengangkat tubuhku, “Berdirilah,” katanya, “Aku sudah memaafkanmu.”
Dengan lunglai, aku berdiri. Aku terus menundukkan wajahku. “Bagaimana mungkin semudah itu, ustadz?” Aku terus mengulangi ketidakpercayaanku.
Ust Hisyam tersenyum dan menggeleng2kan kepalanya. “Kau akan belajar dari semua ini,” katanya, “Apapun yg telah kau katakan tentangku, tak akan mengubah apapun dari diriku.”
Aku terus menundukkan kepalaku. Aku didera malu luar biasa oleh sosok yg dlm bbrp minggu belakangan bahkan beberapa bulan terakhir ini kujelek2an secara membabi-buta. Bukan hanya membicarakan hal2 buruk darinya: ustadz palsu lah, ustadz suka serong lah, ustadz liberal lah—bahkan aku juga menyebarkan fitnah2 keji tentangnya: Bahwa pesantrennya dibiayai dari uang haram, bahwa ia menganut aliran sesat, bahwa ia tak Ingin Islam maju, dan apapun saja yang bisa menjatuhkan harga diri dan nama baiknya.
Aku menatap ust Hisyam yg kini sedang merapikan beberapa kitab di rak2 di ruang bacanya. Bagaimana mungkin selama ini aku tega menghina, menjelekkan dan memfitnahnya hanya gara2 ia memiliki pendapat yg berbeda denganku dan organisasi yg kuikuti? Padahal aku tahu hari2nya dihabiskan untuk mempelajari ilmu agama, waktu luangnya diisi dengan membaca al-Quran dan mengerjakan ibadah2 sunnah, dan kebaikan hatinya telah meringankan serta melapangkan banyak kesulitan orang2 di sekelilingnya. Apalah aku ini dibandingkan kemuliaan dirinya? Siapalah aku ini dibandingkan keluhuran budi pekertinya?
***
“Ustadz, ajarkan saya sesuatu yg bisa menghapuskan kesalahan saya ini.” Aku berusaha menjaga nada bicaraku, tak ingin sedikitpun sekali lagi menyinggung perasaannya.
Ust Hisyam terkekeh. “Apa kau serius?” Katanya.
Aku menganggukkan kepalaku dg penuh keyakinan. “Saya serius, ustadz. Saya benar2 ingin menebus kesalahan saya.”
Ust Hisyam terdiam bbrp saat. Ia tampak berfikir. Aku membayangkan sebuah doa yg akan diajarkan ust Hisyam kepadaku, yg jika aku membacanya beberapa kali maka Allah akan mengampuni dosa2ku. Aku juga membayangkan sebuah laku, atau tirakat, atau apa saja yg bisa menebus kesalahan dan menghapuskan dosa2ku. Beberapa jenak kemudian, ust Hisyam mengucapkan sesuatu yang benar2 di luar perkiraanku.
“Apakah kau punya sebuah kemoceng di rumahmu?” Aku benar2 heran beliau  justru menanyakan sesuatu yg tidak relevan utk permintaanku tadi.
“Maaf, ustadz?” Aku berusaha memperjelas maksud ust Hisyam.
Beliau tertawa, seperti ust Hisyam yang biasanya. Diujung tawanya, ia sedikit terbatuk. Sambil mengangguk2an kepalanya, ia menghampiriku, “Ya, temukanlah sebuah kemoceng di rumahmu,” katanya.
Tampaknya ust Hisyam benar2 serius dg permintaannya. “Ya, saya punya sebuah kemoceng di rumah, ustadz. Apa yg harus saya lakukan dg kemoceng itu?”
Ust Hisyam tersenyum.
“Besok pagi, berjalanlah dari rumahmu ke rumahku,” katanya, “Berjalanlah sambil mencabuti bulu2 kemoceng itu. Setiap kali kau mencabut sehelai bulu, ingat2 perkataan burukmu tentang aku, lalu jatuhkan di jalanan yg kau lalui.”
Aku hanya bisa mengangguk. Aku tak akan membantahnya. Barangkali maksud ust Hisyam adalah agar aku merenungkan kesalahan2ku. Dan dg menjatuhkan bulu2nya satu per satu, maka kesalahan2 itu akan gugur diterbangkan waktu…
“Kau akan belajar sesuatu darinya,” kata ust Hisyam. Ada senyum yg sedikit terkembang di wajahku.
***
Keesokan harinya, aku menemui ust Hisyam dg sebuah kemoceng yg sudah tak memiliki sehelai bulupun pada gagangnya. Aku segera menyerahkan gagang kemoceng itu pada beliau.
“Ini, ustadz, bulu2 kemoceng ini sudah saya jatuhkan satu per satu sepanjang perjalanan. Saya berjalan lebih dari 5 km dari rumah saya ke sini. Saya mengingat semua perkataan buruk saya tentang ustadz.  Saya menghitung betapa luasnya fitnah2 saya tentang ustadz yg sudah saya sebarkan kepada begitu banyak orang. Maafkan saya, ustadz… Maafkan saya…”
Ust Hisyam mengangguk2 sambil tersenyum. Ada kehangatan yg aku rasakan dari raut mukanya. “Seperti aku katakan kemarin, aku sudah memaafkanmu. Barangkali kau hanya khilaf dan hanya mengetahui sedikit tentangku. Tetapi kau harus belajar seusatu…,” katanya.
Aku hanya terdiam mendengar perkataan ust Hisyam yg lembut, menyejukkan hatiku.
“Kini pulanglah…” kata ust Hisyam.
Aku baru saja akan segera beranjak utk pamit dan mencium tangannya, tetapi ust Hisyam melanjutkan kalimatnya, “Pulanglah dg kembali berjalan kaki dan menempuh jalan yg sama dg saat kau menuju rumahku tadi…”
Aku terkejut mendengarkan permintaan ust Hisyam kali ini, apalagi mendengarkan “syarat” berikutnya: “Di sepanjang jalan kepulanganmu, pungutlah kembali bulu2 kemoceng yg tadi kaucabuti satu per satu. Esok hari, laporkan kepadaku berapa banyak bulu yg bisa kau kumpulkan.”
Aku terdiam. Aku tak mungkin menolak permintaan ust Hisyam.
“Kau akan mempelajari sesuatu dari semua ini,” tutup ust Hisyam.
***
Sepanjang perjalanan pulang, aku berusaha menemukan bulu2 kemoceng yg tadi kulepaskan di sepanjang jalan. Hari yg terik. Perjalanan yg melelahkan. Betapa sulit menemukan bulu2 itu. Mereka tentu saja telah tertiup angin, atau menempel di sebuah kendaraan yg sedang menuju kota yg jauh, atau tersapu ke mana saja ke tempat yg kini tak mungkin aku ketahui.
Tapi aku harus menemukan mereka! Aku harus terus mencari ke setiap sudut jalanan, ke gang-gang sempit, ke mana saja!
Aku terus berjalan.
Setelah berjam2, aku berdiri di depan rumahku dg pakaian yg dibasahi keringat. Nafasku berat. Tenggorokanku kering. Di tanganku, kugenggam lima helai bulu kemoceng yg berhasil kutemukan di sepanjang perjalanan.
Hari sudah menjelang petang. Dari ratusan yg kucabuti dan kujatuhkan dlm perjalanan pergi, hanya lima helai yg berhasil kutemukan dan kupungut lagi di perjalanan pulang. Ya, hanya lima helai. Lima helai…
***
Hari berikutnya aku menemui ust Hisyam dg wajah murung. Aku menyerahkan lima helai bulu kemoceng itu pada ust Hisyam. “Ini, ustadz, hanya ini yg berhasil saya temukan.” Aku membuka genggaman tanganku dan menyodorkannya pada ust Hisyam.
Ust Hisyam terkekeh. “Kini kau telah belajar sesuatu,”katanya.
Aku mengernyitkan dahiku. “Apa yang telah aku pelajari, ustadz? ” Aku benar2 tak mengerti.
“Tentang fitnah2 itu,” jawab ust Hisyam.
Tiba2 aku tersentak. Dadaku berdebar. Kepalaku mulai berkeringat.
“Bulu2 yg kaucabuti dan kaujatuhkan sepanjang perjalanan adalah fitnah2 yg kausebarkan. Meskipun kau benar2 menyesali perbuatanmu dan berusaha memperbaikinya, fitnah2  itu telah menjadi bulu2 yg beterbangan entah kemana. Bulu2 itu adalah kata2mu. Mereka dibawa angin waktu ke mana saja, ke berbagai tempat yg tak mungkin bisa kau duga2, ke berbagai wilayah yg tak mungkin bisa kauhitung!”
Tiba2 aku menggigil mendengarkan kata2 ust Hisyam. Seolah2 ada tabrakan pesawat yg paling dahsyat di dalam kepalaku. Seolah2 ada hujan mata pisau yg menghujam jantungku. Aku ingin menangis sekeras2nya. Aku ingin mencabut lidahku sendiri.
“Bayangkan salah satu dari fitnah2 itu suatu saat kembali pada dirimu sendiri… Barangkali kau akan berusaha meluruskannya, karena kau benar2 merasa bersalah telah menyakiti orang lain dg kata2mu itu. Barangkali kau tak tak ingin mendengarnya lagi. Tetapi kau tak bisa menghentikan semua itu.  Kata2mu yg telah terlanjur tersebar dan terus disebarkan diluar kendalimu, tak bisa kau bungkus lagi dalam sebuah kotak besi untuk kau kubur dalam2 sehingga tak ada orang lain lagi yg mendengarnya. Angin waktu telah mengabadikannya.”
“Fitnah2 itu telah menjadi dosa yg terus beranak-pinak tak ada ujungnya. Agama menyebutnya sebagai dosa jariyah. Dosa yg terus berjalan diluar kendali pelaku pertamanya. Maka tentang Fitnah2 itu, meskipun aku atau siapapun saja yg kau fitnah telah memaafkanmu sepenuh hati, fitnah2 itu terus mengalir hingga kau tak bisa membayangkan ujung dari semuanya. Bahkan meskipun kau telah meninggal dunia, fitnah2 itu terus hidup karena angin waktu telah membuatnya abadi. Maka kau tak bisa menghitung lagi berapa banyak fitnah2 itu telah memberatkan timbangan keburukanmu kelak.”
Tangisku benar-benar pecah. Aku tersungkur di lantai. “Astagfirullah al-adzhim… Astagfirullahal-adzhim… Astagfirullah al-adzhim…” Aku hanya bisa terus mengulangi istighfar. Dadaku gemuruh. Air mata menderas dari kedua pelupuk mataku.
“Ajari saya apa saja untuk membunuh fitnah2 itu, ustadz. Ajari saya! Ajari saya! Astagfirullahal-adzhim…” Aku terus menangis menyesali apa yg telah aku perbuat.
Ust Hisyam tertunduk. Beliau tampak meneteskan air matanya.“ Aku telah memaafkanmu setulus hatiku, Nak,” katanya, “Kini, aku hanya bisa mendoakanmu agar Allah mengampunimu, mengampuni kita semua. Kita harus percaya bahwa Allah, dengan kasih sayangnya, adalah zat yg maha terus menerus menerima taubat manusia… InnaLlaha tawwabur-rahiim…”
Aku disambar halilintar jutaan megawatt yg mengguncangkan batinku! Aku ingin mengucapkan sejuta atau semiliar istighfar utk semua yg sudah kulakukan! Aku ingin membacakan doa2 apa saja untuk menghentikan fitnah2 itu!
“Kini kau telah belajar sesuatu,” kata ust Hisyam, setengah berbisik. Pipinya masih basah oleh air mata, “Fitnah2 itu bukan hanya tentang dirimu dan seseorang yang kausakiti. Ia lebih luas lagi. Demikianlah, anakku, fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan…”
Astaghfirullah al-adzhim!
😔😭
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s