MENUTUP AIB

Standard
Saudaraku…
Rasulullah saw bersabda :
وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ
Barang siapa yang menutup aib seorang muslim, pasti Allah akan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat. Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama ia mau menolong saudaranya.  (HR Muslim)
Tiada gading yang tak retak, Manusia tiada yang sempurna, begitulah kata pepatah.
Jika setiap kita menyadari akan hal ini niscaya kita akan menerima kekurangan orang lain dan kitapun sadar memiliki kekurangan yang sama.
Bukankah Manusia adalah tempat salah dan khilaf?
Naluri setiap kita malu akan aibnya jika terbuka, maka mengapa kita senang membuka aib orang lain?
Tidakkah kita berfikir, boleh jadi aib yang sama kita miliki namun belum ada orang lain yang mengetahuinya?
Sebagaimana kita senang aib kita tertutup sehingga tidak seorangpun tahu, maka semestinya kitapun senang untuk menutup aib orang lain.
Imam Ghazali dalam kitab Ihya’nya berkata  :
صدور الأحرار قبور الأسرار
“Hati orang yang (benar-benar) merdeka adalah (laksana) kuburan rahasia  (yang menutup aib-aib orang lain).”
Allah mendorong kita untuk berbuat baik kepada orang lain dengan menutupi aib mereka seperti keterangan hadits di atas. Bahkan Allah mencontohkan bagaimana menutup aib manusia.
Ibnu Qudamah mengungkap kisah.
Pada zaman nabi Musa ‘alaihis salam, Bani Israil ditimpa musim kemarau yang berkepanjangan. Mereka pun berkumpul mendatangi Nabi mereka. Mereka berkata, “Wahai Kaliimallah, berdoalah kepada Rabbmu agar Dia menurunkan hujan kepada kami.”
Maka berangkatlah nabi Musa ‘alaihis salam bersama kaumnya menuju padang pasir yang luas bersama lebih dari 70 ribu orang. Mulailah mereka berdoa dengan kondisi yang lusuh penuh debu, haus dan lapar.
Musa berdoa, “Wahai Tuhan kami turunkanlah hujan kepada kami, tebarkanlah rahmat-Mu, kasihilah anak-anak dan orang-orang yang mengandung, hewan-hewan dan orang-orang tua yang rukuk dan sujud.”
Setelah berdoa langit tetap saja terang benderang, matahari pun bersinar makin kemilau.
Kemudian Musa berdoa lagi, “Wahai Tuhanku berilah kami hujan”.
Allah pun berfirman kepada Musa, “Bagaimana Aku akan menurunkan hujan kepada kalian sedangkan di antara kalian ada seorang hamba yang bermaksiat sejak 40 tahun yang lalu. Keluarkanlah ia di depan manusia agar dia berdiri di depan kalian semua. Karena dialah, Aku tidak menurunkan hujan untuk kalian.”
Maka Musa pun berteriak di tengah-tengah kaumnya,
يا أيها العبد العاصي الذي يبارز الله منذ أربعين سنة! اخرج من بين أظهرنا فبك منعنا المطر
“Wahai hamba yang bermaksiat kepada Allah sejak 40 tahun, keluarlah ke hadapan kami, karena sebab engkaulah hujan tak kunjung turun.”
Seorang laki-laki (pelaku maksiat) melirik ke kanan dan kiri, tapi tak seorang pun yang keluar di depan manusia, saat itu pula ia sadar kalau dirinyalah yang dimaksud.
Ia berkata dalam hatinya, “Kalau aku keluar ke depan manusia, maka akan terbuka rahasiaku. Kalau aku tidak berterus terang, maka hujan pun tak akan turun.”
Maka kepalanya tertunduk malu dan menyesal, air matanya pun menetes, sambil berdoa kepada Allah, “Ya Allah, Aku telah bermaksiat kepadamu selama 40 tahun, selama itu pula Engkau menutupi aibku. Sungguh sekarang aku bertobat kepada-Mu, maka terimalah taubatku.”
Belum sempat ia mengakhiri doanya maka awan-awan tebalpun bergumpal, semakin tebal menghitam lalu turunlah hujan.
Nabi Musa pun keheranan dan berkata, “Ya Allah, Engkau telah turunkan hujan kepada kami, namun tak seorang pun yang keluar di depan manusia.”
Allah berfirman, “Aku menurunkan hujan karena seorang hamba yang karenanya hujan tak kunjung turun.”
Musa berkata, “Ya Allah, Tunjukkan padaku hamba yang taat (sudah taubat) itu.”
Allah berfirman,
يا موسى! إني لم أفضحه وهو يعصيني أأفضحه وهو يطيعني؟!
“Wahai Musa, Aku tidak membuka aibnya padahal ia bermaksiat kepada-Ku, apakah Aku membuka akan aibnya sedangkan ia sudah taat (taubat) kepada-Ku?!” (at-Tawwabin Li Ibn Qudamah, Hal. 21)
*****
Saudara-riku tercinta…
jadikan aib orang lain yang kita ketahui sebagai pelajaran untuk memperbaiki diri kita sendiri agar terhindar dari hal serupa, sehingga kita terhindar pula dari malapetaka sebab aib tersebut.
Wallahu A’lam. Semoga Allah yang maha menutupi aib, melindungi anda dan keluarga dari terbukanya aib-aib serta malapetakanya. Aamiin yaa Mujiibas-saailiin…
😌💕❤
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s