Arti Sebuah Kesempatan

Standard
Deny berumur 11 tahun, ketika ibunya mendaftarkannya les piano. Sebenarnya guru les piano di sekolah itu lebih senang menerima murid yang usianya di bawah 10 tahun. Tetapi Deny selalu berkata bahwa ibunya ingin sekali dia bermain piano. Sehingga ia pun diterima menjadi murid.
Deny mulai belajar dan mencoba bermain piano. Dia memang belum pernah sama sekali belajar piano, sehingga ketika disuruh mencoba oleh gurunya, nada dan irama dasarnya kacau. Tetapi dia terus mempelajari tangga nada dan beberapa pelajaran dasar yang diajarkan ibu gurunya.
Selama beberapa bulan, dia mencoba terus. Gurunya kecewa karena hasilnya sungguh tak memuaskan. Tetapi sang guru tetap menyemangatinya. Setiap akhir pelajaran, dia berkata kepada ibu guru lesnya, “Suatu hari nanti, ibu saya akan mendengar saya bermain piano…”
“Tapi rasanya sia-sia saja,” fikir gurunya. Tampaknya Deny tidak mempunyai bakat sejak lahirnya. Sang guru hanya mengengetahui ibu Deny dari jauh, ketika mengantar atau menjemput Deny. Dia hanya tersenyum dan melambaikan tangan, tetapi tidak pernah turun dari kendaraannya.
Pada suatu hari, Deny tidak datang lagi ke tempat lesnya. Gurunya bermaksud untuk menghubunginya, tapi ragu. Ia berfikir mungkin Deny merasa tidak mampu lagi, sehingga tidak mau datang les lagi. Atau mungkin pindah les ke tempat lain. Sebenarnya, ibu gurunya senang juga, sebab Deny bisa membuat buruk reputasi sekolah pianonya.
Beberapa minggu kemudian, gurunya mengirim surat pemberitahuan dan undangan mengenai rencana pertunjukan konser piano murid-murid sekolahnya. Tiba-tiba Deny muncul dan bertanya, “Ibu guru, bolehkah saya ikut tampil dalam pertunjukan konser itu?” Sang guru dengan terkejut menjawab, “Deny, pertunjukan konser ini hanya untuk murid-murid yang ada sekarang, sedangkan kamu sudah keluar, jadi kamu tidak bisa ikut.”
“Ibu saya sakit keras… sehingga saya tidak bisa ikut les. Tapi di rumah saya latihan terus, bu…” jawabnya memelas. “Tolonglah bu, beri kesempatan saya main di pertunjukan itu,” katanya setengah memaksa.
Entah mengapa, dengan terpaksa akhirnya sang guru membolehkan Deny ikut tampil. Mungkin karena kegigihannya, atau ada sesuatu di dalam perasaan sang guru yang berkata bahwa semua akan baik-baik saja.
Malam pertunjukan pun tiba. Auditorium sekolah dipenuhi oleh tamu undangan, orangtua murid, dan tokoh-tokoh masyarakat. Deny diletakkan pada urutan terakhir, sebelum gurunya memberi sambutan penutup dan memainkan bagian akhir. Apabila Deny ada kesalahan atau bermain kurang baik, akan ditutupi oleh permainan piano gurunya, sebagai penutup acara.
Pertunjukan berlangsung tanpa masalah.
Murid-murid telah berlatih giat dan hasilnya memuaskan.
Lalu giliran Deny naik ke panggung. Pakaiannya lusuh dan rambutnya kusut masai.
“Mengapa Deny berpakaian seperti itu? Kenapa ibunya tidak menyisiri rambutnya untuk malam ini,” fikir gurunya agak kecewa.
Tapi apa boleh buat, Deny sudah terlanjur naik panggung.
Deny menarik kursi piano dengan perlahan dan mulai bermain.
Gurunya terkejut ketika Deny menyatakan bahwa dia memilih Mozart’s Concerto #21 in C Major.
“Waduh, celaka ini… mengapa Deny memilih yang sangat sulit???  Oo my God, aku tidak siap mendengarnya” gerutu sang guru.
Jarinya ringan di tuts nada, bahkan menari nari dengan gesit. Dia berpindah dari pianossimo ke fortissimo… dari allegro ke virtuoso. Akord tergantungnya yang diinginkan Mozart sangat mengagumkan!
“Aku belum pernah mendengar lagu Mozart dimainkan anak seumur dia dengan sebagus itu!” gurunya bergumam lirih.
Setelah enam setengah menit, Deny mengakhirinya dengan Crescendo besar. Seluruh penonton di auditorium terpaku, kemudian tiba-tiba tepuk tangan membahana di seluruh ruangan. Seluruh tamu undangan berdiri bertepuk tangan memberi salut atas permainan piano Deny.
Sang ibu guru tak kuasa menahan emosinya, dia berlari ke atas panggung kemudian memeluk Deny sambil menangis bahagia.
“Bagaimana kamu bisa memainkan piano sebagus ini, Deny..???” tanya sang guru takjub.
Melalui pengeras suara Deny menjawab, “Ibu guru ingat ketika saya bilang bahwa ibu saya sakit keras? Itu benar bu, ibu saya terkena sakit kanker, dan tadi pagi ibu saya meninggal dunia… Dan sebenarnya, ibu saya tuli sejak lahir… jadi di malam inilah beliau pertama kali mendengar saya bermain piano… permainan piano saya tadi memang saya persembahkan untuk ibu saya.  Selamat jalan ibuku tercinta…”
Auditorium menjadi hening… seluruh penonton meneteskan air mata, haru…
😔😭💕❤
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s